CLICK HERE FOR THOUSANDS OF FREE BLOGGER TEMPLATES »

Sunday, January 27, 2008

A FRIEND OF MINE..

I love having you as a friend,
You make my day brighter,
I'm happy with this friend I've found
Who makes my burdens lighter.
Whenever I see you,
It makes me want to smile,
You were never too cool,
Always in Style.
Don't you ever leave me,
I'll never make you frown,
By your side I'll always be,
Especially when you're down.
Even through the worst of days,
I will be right here,
Watching you through ever faze,
Catching every tear.
You hold my feelings in your hand,
Every single one,
My friendship will forever stand,
Even when the fun is done.
So don't ever forget me,
For I will not forget you,
Here for you I will always be,
No matter what you do.
If others could feel as free,
As I feel with this Friend,
Friendship and warmth is all they'd see,
And love would never end.

by syaheeD!

Musim semi telah tiba..

Musim semi kini telah tiba
Bunga-bunga bermekaran
Di sepanjang jalan warna berganti
Segar asri berseri … dihati …


"Aku ingin keluar dari jamaah ini!", sepotong kalimat terlontar dari seorang ikhwah. Bukan untuk yang pertama kali, namun sudah tak terhingga kalimat ini mengiang di telinga kita. Bukan pula yang terakhir kali, karena inilah sunatudda'wah. Pernyataan ini senantiasa membekas di setiap zaman, di setiap
episode dakwah, dari zaman kenabian sampai hari kiamat.

"Silahkan akhi….silahkan ukhti….", jawab seorang ikhwah menimpali.Beberapa dari kita mempersilahkan kepergian saudara dari barisan ini dengan sikap biasa-biasa. Sikap yang lahir dari pemahaman bahwa hal ini merupakan sunnah dakwah, bahwa akan selalu lahir ikhwah-ikhwah baru, mujahid-mujahid baru, bahwa Islam akan tetap terpelihara sehingga tidak pantas barisan ini merengek-rengek demi menahan kepergian seseorang, bahwa seleksi alamiah berlaku untuk membersihkan orang-orang yang barangkali memang kurang pantas mengemban amanah ini. Sikap ini tidak salah, banyak yang menerapkan dengan apa adanya, maka akhirnya tidak sedikitlah yang benar-benar mundur dari barisan ini

Saat kita bersemangat, memiliki level iman yang stabil atau sedikit lebih baik, kita seolah-olah melihat saudara kita pun seperti kita. Menerapkan standar stabilitas keimanan kita kepada saudara-saudara kita, atau bahkan adik (ikhwah baru) kita. Maka, ketika kondisi saudara kita tidak stabil, sedang mengalami fluktuasi iman, futur, kita pun menganggapnya sebagai kader manja. Kita melihatnya dengan perspektif berbeda dengan apa yang dirasakannya atau yang dibutuhkannya. Kita yang stabil memaksa agar ia bisa survival bertahan di garis keimanan. Sehingga kita tidak merasa terlalu perlu untuk memberinya nasihat, atau motivasi-motivasi keimanan. Sementara betapa ia butuh sentuhan-sentuhan perhatian kita.

Kita berpikir bahwa suatu saat, kita akan hidup sendiri tanpa seorang ikhwah yang menemani di suatu daerah. Sehingga kita mengira bahwa kita harus bersiap-siap untuk hal tersebut. Maka ketika ada seorang yang futur, kita bersikap seolah-olah tidak peduli padanya. Dan ketika dia benar-benar mengucapkan, "selamat tinggal", kita menyalahkannya atas kelemahannya. Kita menyelamatkan diri atas kesalahan dari futurnya saudara, dengan hiburan-hiburan bahwa ini adalah sunatuddakwah.

Tidak sedikit kisah-kisah futurnya ikhwah dari barisan ini setelah tarbiyah bertahun-tahun. Bukan hal yang mengejutkan memang, ulama bahkan ada yang murtad, berganti haluan, ustadz pun ada yang terjatuh, saat tergiur dengan indahnya dunia. Kehilangan seorang yang telah memiliki kepahaman dan mobilitas dakwah yang tinggi, apakah bisa diganti dengan masuknya 50 orang baru dalam barisan ini, tanpa kepahaman dan aksi dakwah yang mapan?Lepasnya seorang kader produktif apakah bisa ditutupi dengan hiburan bahwa 50 baru orang yang baru-baru mengikuti daurah tahap awal, dengan produktifitas dakwah yang masih nol?

Saudaraku, apakah orang yang baru tarbiyah 1 atau 5 tahun telah bisa menyamai kepribadian Ka'ab bin Malik ra?Nilai keimanan memang tidak bisa diukur dengan lamanya tarbiyah, namun kita bisa melihat secara umum
bagaimana kondisi keimanannya dengan parameter usia interaksinya dengan dakwah. Apakah kita akan menyikapi seorang yang baru setahun liqo dengan sikapnya Musa As. kepada Harun As. Saat beliau menarik jenggot saudaranya?Atau kita mencoba mengikuti marahnya Abu Bakar ra. Kepada Umar ra yang memilih jalur 'lembut' dalam menyikapi Musailamah dan orang-orang yang menolak zakat?Sekeras itukah kita berperilaku terhadap seorang ikhwah.

Dimana senyummu saat pertama bertemu bersama dalam dakwah ini, dimana pelukmu seperti kepada adik-adikmu yang baru masuk dalam aksi tarbiyah? Kunjungilah saudaramu, ketika lama ia tidak menyapamu, smslah ia saat sang adik tidak pernah muncul-muncul dalam pertemuan keimanan. Datangilah mereka yang lemah, mereka yang manja, tularkan petuah-petuah juangmu. Apakah benar sudah saatnya mereka survival dalam menjaga stablitas keimanananya?Tidak, tidak ya akhi, cukuplah derai airmata ini, cukuplah kesedihan hilangnya seorang ikhwah 'berhenti' sampai disini, dekaplah dan tahanlah mereka yang hendak pergi.

Kuntum bunga boleh layu, namun rekahnya bunga-bunga mujahid harus terjaga tetap hadir di sebuah kebun…

Dunia ibarat sebuah terminal
Hanya tempat persinggahan
Bersabarlah hadapi ujian
Tak kan lama kan tinggal …


YA ALLAH ENGKAULAH YG MAHA MENGETAHUI...JIKA ADA KEKURANGAN SERTA KESILAPAN PADA APA YG KAMI BAWAKAN KEBENARANMU MAKA ENGKAU PANDULAH HATI KAMI AGAR TIDAK TERPESONG....BIMBINGLAH KAMI AGAR KASIH SAYANG SERTA KEADILAN DLM ISLAM DPT DINIKMATI KEMANISANNYA BERSAMA HAMBAMU YG LAIN....KASIHILAH SAUDARA SEISLAM KAMI, KASIHILAH IBUBAPA KAMI......MOHON DGN SANGAT YA ALLAH....MOHON DGN SANGAT YA ALLAH

hidup ini kini lebih bermakna....

Dan Bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya Telah kami lalaikan dari mengingati kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas. (18:28)

Sabar. Perkataan yang cukup sinonim dengan insan yang bergelar daie atau ana lebih suka menggelarnya dengan pahlawan mukmin sejati. Suka ana petik kata2 Dr Anis Matta dalam bukunya Mencari Pahlawan Indonesia, “Seorang pahlawan boleh salah, boleh gagal, boleh tertimpa musibah. Akan tetapi dia tidak boleh kalah. Dia tidak boleh menyerah kepada kelemahannya; dia tidak boleh menyerah kepada tantangannya; dia tidak boleh meyerah kepada keterbatasannya. Dia harus tetap melawan, menembus gelap, supaya dia bisa menjemput fajar. Sebab, kepahlawanan adalah piala yang direbut bukan kado yang dihadiahkan.”

Pengalaman hampir 3 tahun bersama kafilah dakwah cukup mematangkan ana dari remaja perempuan yang hubbuddunya kepada akhwat tarbiyah yang punya misi dan visi hidup yang jelas insyaAllah. ~misi untuk menyelamatkan umat dan membumikan kalimah tauhid di seantero dunia.

Bermula dengan awal perkenalan dengan tarbiyah di matriks, ana bagaikan terpukau dengan kecantikan Islam itu sendiri. Bagaikan diIslamkan semula, ana belajar tentang kalimah agung syahadah dan memahaminya. Ana belajar erti iman dan ukhwah, tentang dakwah dan jihad dan yang paling mengesankan tentang sabar dan pengorbanan. Ana akui banyak belajar dari ikhwah dan akhwat, dari anak halaqah sendiri dan anak halaqah orang lain dan dari jemaah lain juga yang sama-sama membawa Islam. Jangan pernah malu untuk bertanya sekalipun kita merasakan perkara itu sesuatu yang remeh dan jadikan kekurangan kita sebagai satu cabaran untuk pengislahan yang lebih baik. Cabaran yang paling besar adalah mengikis karat-karat jahiliyah yang masih menempel pada diri dan sehingga sekarang ana masih usahakan untuk tajdid dan islah terutama dalam pembentukan peribadi Muslim.

Dalam dakwah dan tarbiyah, ana belajar untuk memikul dua komitmen besar dalam satu masa..dakwah dan studi. Amanah sebagai seorang pelajar dan tanggungjawab sebagai seorang daie. Ana akui sehingga sekarang ana masih tercari-cari formula efektif untuk manajmen tawazun yang baik , semua akhwat juga. Suatu yang pasti, Allah akan menguji dengan apa yang kita sayang dan cabaran yang datang betul-betul menguji kematangan dan kesabaran. Dari situ ana belajar tentang manajmen waktu yang baik dan lebih kreatif dalam mengurus waktu. Ana selalu pegang kata-kata Abu ‘Izuddin, dalam Quantum Tarbiyah, “Kita tidak berorientasi kepada keterbatasan tapi bagaimana menciptakan kemelimpahan. Kitalah yang menciptakan kondisi. Kitalah yang menyebabkan momentum itu menjadi ada. Kitalah yang berupaya menghadirkan perubahan menjadi nyata dan agar eksistensi tetap terjaga.” Sama-sama kita usahakan agar keterbatasan menjadi kemelimpahan.

Ana belajar banyak dari setiap pengalaman. Pernah satu ketika ana ditegur tentang masalah displin, tentang masalah tsiqah dan taat, tentang lebih serius dalam dakwah...ana tersedar sendiri (selepas dibicarakan dalam mahkamah tarbiah..erm) dakwah tidak memerlukan orang yang hanya menumpang, tapi orang yang boleh memandu, orang yang lebih serius dan memaknai dakwah itu sendiri. Peristiwa itu memberikan ibrah yang cukup besar bagi diri ana dan dakwah. Cukup bermakna. Ana selalu ingatkan akhwat lain supaya selalu serius dalam semua terutamanya dengan Allah. Sebab kalau serius dengan Allah, pasti urusan yang lain juga akan sentiasa serius.

Sudi ana singgung satu pengalaman pahit dalam tarbiyah apabila sahabiah fillah seperjuangan mengangkat bendera putih mengundurkan diri dari tarbiyah. Sedih. Tapi ibrah yang besar sebagai motivasi pemangkin untuk ana sendiri supaya lebih bersungguh dalam dakwah kerana tidak ada satu jaminan pun untuk kita terus kekal di atas jalan yang paling konsisten ini untuk menuju Allah. Salah satu perkara yang berperanan besar dalam menjaga stamina ruhiyah seorang afrod (individu) dalam tarbiyah adalah ukhuwah. Kadang-kadang kerana kesibukan yang mencengkam, hak-hak ukhuwah yang seharusnya kita berikan kepada saudara kita menjadi terabai. Maka wajarlah bila kita rasakan sewaktu berprogram, pertemuan rutin menjadi kering tanpa makna. Masing-masing sibuk dengan urusan dakwah sendiri. Kosong. Ini berlaku di medan ana sendiri.Perkara sebegini haruslah diatasi. Sesibuk manapun aktiviti kita, hak-hak ukhuwah harus tetap kita berikan. Berwajah cerah ketika bertemu, saling berziarah sehingga kita tahu keadaan keluarganya,masalah yang sedang dihadapinya serta keadaan imannya. Cari masa untuk bermalam bersamanya agar dapat bertukar cerita sehingga kita boleh berempati ( empathy ) terhadap permasalahan saudara kita. Saling nasihat menasihati baik diminta ataupun tidak, saling bertukar-tukar hadiah dan saling mendoakan doa rabithah. Andai kesemua hak-hak ukhuwah tersebut kita tunaikan, akan menjadi tipislah kemungkinan untuk bergugurannya sahabat-sahabat kita di jalan dakwah, insyaAllah.

Kekalnya ana dalam tarbiyah sehingga hari ini insyaAllah berkat doa akhwat dan anak halaqah dan atas keizinan Allah jua. Selagi masih bernyawa, ana akan teruskan wasilah tarbiyah Rasulullah ini hingga hidup mulia atas kemenangan atau syaheeD! Sebagai syuhada’ insyaAllah. Tapi ana selalu ingatkan diri sendiri supaya tidak merasa selesa dengan posisi yang ana pegang sekarang sebab lagi bertambah kerja lagi perlunya untuk kita lebih serius dan matang baik dari segi iman, ukhwah mahupun manajmen. Matang dan terus matang. Dakwah kita semakin berkembang insyaAllah, doakan akhwat dan ikhwahnya juga berkembang dengan acuan Allah itu sendiri.

Akhirnya akhwatku, tarbiyah itu unik. Di situ bukan sahaja sekadar perpindahan(transfer) ilmu dan bahan, tetapi adalah proses bagi setiap individu di dalamnya untuk menjadi lebih baik dari sebelumnya. Dan lebih dari itu, langkah-langkah ke arah menjadi lebih baik itulah yang menjadikan kita mengerti akan hakikat hidup berjemaah. Tarbiyah bukanlah segala-galanya, namun tanpa tarbiyah segala-galanya sia-sia. Allahuwarasuluhu ‘alam.

Hidup mulia @ Mati syaheeD!

syaheeD! Al~faqeerah llaALLAH

Spirit Iman

Salam uhibbukifilah...Afwan buat ukhti-ukhti yang sedang menunggu coretan dari kami. Insya-Allah akhwat Sabah akan berusaha untuk mengup-date blog ini dari semasa ke semasa. Di sini ana coretkan sedikit nukilan pembooster iman yang bertintakan cinta kepada Allah. Kepada akhwat Sabah, teruslah mengencarkan da'wah kita di sini. Gencarlah kita untuk menyelesaikan masalah umat yang semakin luar biasa. Hayya 'alalfallah....
"Sungguh beruntung orang-orang yang beriman, (iaitu) orang yang khusyuk dalam solatnya, dan orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tidak berguna, dan orang yang menunaikan zakat," [QS Al-Mu'minun, 23:1-4]

Para pahlawan berangkat dari iman & keyakinan. Yakin akan adanya balasan & kemenangan yang dirindukan. Yakin bahawa apa pun yang dilakukan tak akan disia-siakan oleh sang Pemilik Kehidupan.
Keyakinan atau aqidah, menurut Hasan al-Banna, adalah perkara yang hati membenarkannya, jiwa menjadi tenteram kerananya, & menjadikan rasa yakin pada diri tanpa tercampuri oleh keraguan & dikukuhkan dengan analisa yang benar.

Iman adalah kekuatan yang menggerakkan setiap mukmin. Iman yang menghadirkan kemenangan adalah keimanan pada hari akhir sehingga selalu berpikir & berpikir untuk bekerja & bekerja. Al-Quran & hadits selalu mengaitkan iman kepada Allah dengan hari akhir. Sebab, inilah inti keimanan: yakin akan balasan. Setiap amal. Sekecil apapun. Tanpa ada sedikit pun yang terlewatkan.
"Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya, kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan; maka mereka akan mendapat pahala yang tidak ada putus-putusnya." [QS At-Tin, 95:4-6]

Yakin terhadap kemenangan inilah yang membuat kita berbeda. Sebab, orang-orang yang yakin akan adanya hari akhir & pembalasan:
  1. Ia benci, sangat benci kepada kemaksiatan & kebejatan moral yang mengakibatkan murka Allah di dunia & di akhirat. Menurut Ibnul Qayim, maksiat paling tidak akan menimbulkan 20 dampak. Di antaranya menyempitkan rezeki, menimbulkan minder, menjauhkan diri dari orang lain, menyiksa hati, menimbulkan kegundahan, menutup dari kebaikan, & membuahkan maksiat lain. Kemenangan terwujud bila kita jauh dari maksiat. Sebab bila para pejuang – yang mestinya taat – malah bermaksiat, maka yang lebih kuat akan mengalahkan yang lebih lemah. Ini sunnatullah. Kita kuat & menang kala bersandar pada Allah yang Maha Perkasa. Allahush shamad… laa haula walaa quwwata illaa billah.
  2. Ia merasa tenang, sejuk & gembira. Sebab ia akan mendapatkan nikmat akhirat yang luar biasa yang sama sekali tidak dirasakan di alam dunia ini. Keyakinan inilah yang membuatkan dirinya tetap sabar dalam ketaatan, menjauhi maksiat, menanggung musibah. Tetap bersyukur, mencintai apapun yang dimilikinya. Tetap qana’ah menerima apapun yang didapatkannya. Tetap tawakal, berusaha keras mencapai sukses, biarlah Allah yang mengatur segalanya. Tetap roja’, berharap anugerah & ampunan dari Allah. Tetap khouf, merasa takut untuk melanggar aturan-Nya, merasa khuatir bila melalaikan kewajiban kepada-Nya.
  3. Sentiasa tertanam kecintaan & ketaatan terhadap Allah dengan mengharapkan mau’nah-Nya pada hari itu. Iman kepada hari akhir inilah yang membuat jiwa selalu termotivasi beramal dengan ikhlas, membendung niat buruk dari hati, & menjauhkan diri dari pikiran kotor yang mengelayuti.

Ini hanya sebahagian dari energi iman. Sebab bila sungguh telah hadir maka ia bisa menghidupkan hati, menghidupkan pemikiran, menghidupkan amal, menghidupkan semangat jihad, & tentunya menghidupkan kehidupan. Abu Bakar Ash-Shidiq membuktikan & berpesan, “Nak, carilah kematian, niscaya ‘kan kau temukan kehidupan.” Khalid bin Walid meneruskan, “Kami akan datang kepada kalian dengan orang-orang yang mencintai kematian sebagaimana kalian sangat mencintai kehidupan.”

Prepared by Syifa'

Copied by The Way To Win (Solikhin Abu Izuddin)

Friday, December 21, 2007

Ahlan Wasahlan

Assalamu'alaikum Warohmatullohi Wabarokatuh...
"Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui siapa yang mendapat petunjuk."
(QS. An Nahl :125)
Dari Abu Sa'id Al-Kudri r.a berkata: Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, "Barangsiapa di antara kalian melihat suatu kemungkaran hendaklah ia mengubah dengan tangannya; jika tidak mampu, maka dengan lisannya; dan jika ia tidak mampu, maka dengan hatinya dan itulah selemah-lemah iman."
(HR. Muslim)